Kamis, 16 Februari 2012

SANGIRAN DOME(KUBAH SANGIRAN)

Manusia purba merupakan terminologi yang digunakan untuk manusia yang hidup pada masa lampau dan dibuktikan dengan temuan-temuan fosil tulang manusia di situs-situs prasejarah. Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan temuan-temuan fosil manusia purba. Di awali dengan temuan spektakuler fosil atap tengkorak (cranial) dan tulang paha (femur) manusia di bantaran Sungai Bengawan Solo (Jawa) pada tahun 1891-1892 oleh Eugene Dubois, seorang dokter tentara pemerintah kolonial Belanda yang tertarik dengan kajian palaeoanthropology di Indonesia. Semenjak berita temuan tersebut dipublikasikan dengan nama spesies Pithecanthropus erectus (manusia kera yang berjalan tegak), banyak para ahli yang melakukan penelitian mengenai manusia purba dan menemukan fragmen-fragmen fosil manusia purba lainnya serta sisa-sisa kebudayaannya di Indonesia.

Ernest Heakle dan Thomas Huxley berasumsi, jika ingin mencari fosil manusia purba maka pergilah ke kawasan katulistiwa (Heakle menyarankan ke Asia; Huxley menyarankan ke Afrika). Asumsi itu berdasarkan pemahaman bahwa, pada saat terjadi fluktuasi jaman glassial-interglassial di muka bumi pada periode pleistocen telah mengakibatkan terjadikan ketidakseimbangan ekosistem. Terjadi kepunahan pada beberapa spesies makhluk hidup di sebagian wilayah muka bumi yang merupakan sumber makanan bagi makhluk hidup yang lain, sehingga yang tidak mampu bertahan akan musnah dengan sendirinya. Pembekuan dan pencairan permukaan air laut pada jaman glassial-interglassial terjadi hanya di wilayah Utara dan Selatan bumi. Sementara di kawasan garis katulistiwa terjadi pluvial-interpluvial (tidak mengalami pembekuan dan pencairan permukaan air laut, hanya terjadi penaikan dan penurunan tinggi permukaan air laut dengan iklim kering dan lembab). Kondisi yang demikian mengakibatkan kawasan katulistiwa tetap mampu menjadi tempat hidup bagi spesies flora dan fauna. Dengan demikian, logika yang berkaitan dengan asumsi Heakle dan Huxley adalah manusia purba yang hidup di luar kawasan katulistiwa dan terancam kepunahan akibat ketidakseimbangan ekosistem pada jaman glassial-interglassial, melakukan migrasi ke kawasan yang memungkinkan masih menyediakan berbagai sumber makanan. Migrasi yang dilakukan adalah melakukan perjalanan ke wilayah katulistiwa.

Seiring dengan perkembangan penelitian di bidang palaeoanthropology, asumsi Heakle dan Huxley terbukti dengan banyak ditemukannya situs-situs prasejarah tempat ditemukannya fosil manusia purba di Asia dan Afrika. Berdasarkan penelitaian yang dilakukan mulai akhir abad XIX hingga XX, Asia memiliki situs-situs manusia purba antara lain Sangiran, Pacitan (Indonesia), Gua Tabon (Filipina), dan Gua Kepah (Malaysia); Afrika memiliki situs-situs manusia purba antara lain Olduvai Gorge (Tanzania), Bantaran Sungai Omo (Ethiopia), dan Danau Turkana (Kenya).

Situs Sangiran Dome

Bentang lahan situs tersebut meliputi areal seluas ± 48 km2 yang berbentuk seolah seperti kubah (dome), sehingga situs tersebut dinamakan dengan Sangiran Dome. Terletak di wilayah administrasi Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah, Sangiran berada ± 15 km ke arah Utara kota Surakarta. Situs Sangiran merupakan salah satu situs manusia purba yang sangat berperan penting dalam perkembangan penelitian di bidang palaeoanthropology di Indonesia. Pada tahun 1934 penelitian yang dilakukan oleh G.H.R. von Koenigswald yang menemukan beberapa alat sepih yang terbuat dari batu kalsedon di atas bukit Ngebung, arah Baratlaut Sangiran Dome.

Berdasarkan penelitian geologis, situs Sangiran merupakan kawasan yang tersingkap lapisan tanahnya akibat proses orogenesa (pengangkatan dan penurunan permukaan tanah) dan kekuatan getaran di bawah permukaan bumi (endogen) maupun di atas permukaan bumi (eksogen). Aliran Sungai Cemoro yang melintasi wilayah tersebut juga mengakibatkan terkikisnya kubah Sangiran menjadi lembah yang besar yang dikelilingi oleh tebing-tebing terjal dan pinggiran-pinggiran yang landai. Beberapa aktifitas alam di atas mengakibatkan tersingkapnya lapisan tanah/formasi periode pleistocen yang susunannya terbentuk pada tingkat-tingkat pleistocen bawah (lapisan Pucangan), pleistocen tengah (lapisan Kabuh), dan pleistocen atas (lapisan Notopuro). Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di laipsan-lapisan tersebut berasosiasi dengan fosil-fosil fauna yang setara dengan lapisan Jetis, lapisan Trinil, dan lapisan Ngandong. Konversi tingkatan lapisan tanah/formasi periode situs Sangiran menurut von Koenigswald dapat digambarkan sebagai berikut.

Periode

Lapisan Temuan Fosil

Teknologi

Geologi

Manusia

Fauna

Palaeolithic

Pleistocen

Atas

Notopuro

Ngandong

Tengah

Kabuh

Trinil

Bawah

Pucangan

Jetis

Secara umum situs-situs arkeologi diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu situs hominid (ciri-ciri banyak ditemukan fosil manusia dan fauna) dan situs artefak (ciri-ciri banyak ditemukan perkakas atau hasil budaya fisik manusia masa lampau). Di Indonesia, situs Sangiran, situs Trinil, dan situs Kedungbrubus adalah contoh beberapa situs hominid; sedangkan situs Kali Baksoka, situs Kali Ogan, dan Cabenge adalah contoh beberapa situs atrtefak.

Sangiran Dome Sebagai Tempat Hunian dan Ruang Subsistensi Manusia Purba

Diperkirakan situs Sangiran pada masa lampu merupakan kawasan subur tempat sumber makanan bagi ekosistem kehidupan. Keberadaanya di wilayah katulistiwa, pada jaman fluktuasi jaman glassial-interglassial menjadi tempat tujuan migrasi manusia purba untuk mendapatkan sumber penghidupan. Dengan demikian kawasan sangiran pada kala pleistocen menjadi tempat hunian dan ruang subsistensi bagi manusia pada masa itu.

Tempat-tempat terbuka seperti padang rumput, semak belukar, hutan kecil dekat sungai atau danau menjadi pilihan sebagai tempat hunian manusia pada kala pleistocen. Mereka membuat pangkalan (station) dalam aktifitas perburuan untuk m,endapatkan sumber kebutuhan hidupnya. Pilihan situs Sangiran dome sebagai pangkalan aktifitas perburuan mengingatkan kita dengan living floor (lantai hidup) atau old camp site di lembah Olduvai, Tanzania (Afrika). Indikasi suatu situs sebagai tempat hunian dan ruang subsistensi adalah temuan fosil manusia purba, fauna, dan artefak perkakas yang ditemukan saling berasosiasi.

A. Temuan Fosil Manusia Purba dan Fauna di Situs Sangiran Dome

Sejak ditemukannya Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois, mulai tahun 1936-1978 telah dilakukan penelitian tentang manusia purba di situs Sangiran dome dan berhasil menemukan fragmen-fragmen fosil manusia purba yang diberi kode penomoran S1a - S28. Bila dibandingkan dengan situs-situs hominid lainnya di Indonesia seperti situs Tirinil, situs Ngandong, situs Kedungbrubus, dan situs Wajak, situs Sangiran merupakan situs hominid terbesar berdasarkan jumlah temuannya. Bisa dikatakan bahwa, hambir 60% temuan fragmen fosil manusia purba di Indonesia ditemukan di situs Sangiran. Temuan-temuan fosil tersebut berada pada lapisan Pucngan, lapisan Kabuh, dan lapisan Notopuro. Jenis spesies manusia purba yang ditemukan di Sangiran disamakan dengan jenis Pithecanthropus. Keseluruhan temuan spesies tersebut secara garis besar berdasarkan karakter fisik dibedakan menjadi tiga, yaitu:

N Pithecanthropus archaic ditemukan di lapisan Pucangan (pleistocen bawah) berumur ± 1,7 - 0,8 juta tahun yang lalu.

N Pithecanthropus classic ditemukan di lapisan Kabuh (pleistocen tengah) berumur ± 0,8 - 0,4 juta tahun yang lalu.

N Pithecanthropus progressive ditemukan di lapisan Notopuro (pleistocen atas) berumur ± 0,4 - 0,1 juta tahun yang lalu.

Jenis-jenis fauna yang ditemukan di situs Sangiran Dome berasal dari migrasi fauna Asia daratan ke Indonesia yang terjadi pada jaman glassial-interglassial melalui “jembatan darat” dataran Sunda. Bukti adanya migrasi fauna tersebut, yaitu ditemukannya fosil-fosil hewan pada lapisan Jetis dan lapisan Trinil yang mempunyai karakter “Sino-Malaya” (karakter fauna yang hidup di Cina dan Semenanjuung Malaya) misalnya wauwau, gibbon, beruang Malaya, dan stegodon (gajah); dan “Siva-Malaya” (karakter fauna yang hidup di India dan Semenanjuung Malaya) misalnya leptobos (lembu purba), hippopotamus (kuda nil), dan epimachairodus (sejenis harimau).

Pada tahun 1907-1908 L. Selenka melakukan ekskavasi di tempat penemuan species Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois. Penelitian tersebut tidak satupun menemukan fosil manusia purba, tetapi justru banyak menemukan fosil-fosil berbagai fauna. Jenis-jenis hewan yang diperkirakan pernah hidup di masing-masing lapisan antara lain adalah:

õ Lapisan Jetis ditemukan fragmen fosil leptobos (lembu purba), hippopotamus namadicus (kuda nil), cervus zwaani (sejenis rusa), stegodon trigonocephalus (gajah) dan epimachairodus zwierzykii (sejenis harimau).

õ Lapisan Trinil ditemukan fragmen fosil stegodon trigonocephalus (gajah), cervus hippelaphus (sejenis rusa), felis palaeojavanica (sejenis harimau), dan bubalts palaeokarabau (sejenis banteng).

õ Lapisan Ngandong ditemukan fragmen fosil stegodon trigonocephalus (gajah), cervus hippelaphus, cervus janvanicus (sejenis rusa), felis tigris, felis palaeojavanica (sejenis harimau), rhinoceros sondaicus (sejenis kuda), dan bubalus palaeokarabau (sejenis banteng).

B. Temuan perkakas di Situs Sangiran Dome

Perkakas batu yang ditemukan di situs Sangiran Dome berupa alat-alat serpih bilah (flakes). Penemuan serpih bilah pertama kali oleh G.H.R. von Koenigswald pada tahun 1934 diasumsikan terletak pada lapisan Kabuh (pleistocen tengah). Namun dalam penelitian lanjutan pada tahun 1938 yang dilakukan Teihard de Cardin, Helmut de Terra, dan Hallam L. Movius mengindikasikan temuan-temuan serpih bilah yang terletak di lapisan Notopuro (pleistocen atas) di atas endapan lapisan Kabuh. Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Tim Puslit Arkenas(Indonesia) bekerja sama dengan Museum National d’Histoire Naturelle (Perancis) berhasil menemukan konsentrasi serpih bilah pada lapisan Grenzbank (lapisan konglomerat yang membatasi lapisan Pucangan dan lapisan Kabuh). Penelitian yang semakin intensif dilakukan di situs Sangiran Dome berhasil menemukan perkakas lain selain serpih bilah, antara lain polyedric (bola batu) dalam jumlah besar, kapak perimbas, kapak penetak, kapak pembelah, dan perkutor yang ‘sophisticated

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar